Rumah adat adalah bangunan tradisional yang memiliki kekhasan tertentu sesuai budaya setiap suku di Indonesia. Keberagaman suku bangsa membuat Indonesia memiliki banyak jenis rumah adat yang mencerminkan identitas masing-masing daerah.
Salah satunya adalah rumah adat sulah nyanda milik suku Baduy, masyarakat asli Banten yang tinggal di kawasan pegunungan. Rumah tradisional ini dibangun dari material kayu dan bambu yang diambil dari alam sekitar. Proses pembangunan rumah sulah nyanda dilakukan secara bergotong royong dengan memanfaatkan bahan-bahan alami.
Kayu digunakan sebagai struktur utama, sedangkan batu kali atau umpak berfungsi sebagai tumpuan dasar pondasinya.
Keunikan rumah adat suku Baduy terletak pada Materialnya. Materaial utama pembangunan Suluh Nyanda berasal sepenuhnya dari alam sekitar: kayu, bambu, ijuk, dan daun kirai.
Tidak ada paku, tidak ada semen, dan tidak ada unsur modern yang mengikatnya semua disatukan oleh teknik ikatan tradisional. Ketergantungan pada alam bukan berarti mengeksploitasi masyarakat Baduy mengambil bahan secara selektif, memastikan hutan tetap lestari.
Atapnya yang berbentuk pelana memanjang berfungsi mengalirkan air hujan dengan baik, sedangkan lantai bambu yang berongga menciptakan sirkulasi udara alami.
Desain ini menjadikan rumah tetap sejuk siang hari dan hangat di malam hari, membuktikan bahwa kearifan lokal mampu menjawab kebutuhan kenyamanan tanpa teknologi canggih.
Suluh Nyanda bukan sekadar bangunan tua yang dipertahankan. Ia adalah warisan hidup simbol bahwa budaya dapat bertahan bila dijaga oleh nilai dan disiplin masyarakatnya.
Proses Gotong Royong dalam Pembangunan
Keistimewaan rumah adat suku Baduy terlihat dari cara pembangunannya yang menyesuaikan bentuk dan kemiringan tanah. Hal ini mencerminkan ketaatan masyarakat Baduy terhadap adat yang menekankan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Karena mengikuti kontur alami, tinggi setiap tiang rumah tidak selalu sama. Bambu dianyam untuk membentuk dinding serta lantai, sementara bagian atap dibuat dari ijuk, yaitu serat dari daun kelapa yang telah dikeringkan.
Rumah adat sulah nyanda terdiri atas tiga bagian ruang, yaitu sosoro (bagian depan), tepas (bagian tengah), dan ipah (bagian belakang). Masing-masing ruang memiliki peran dan fungsi tertentu sesuai dengan tata pembangunannya.
Bagian depan rumah, yang disebut sosoro, berfungsi sebagai ruang tamu. Area ini menjadi tempat menerima tamu karena mereka tidak diperbolehkan masuk lebih jauh ke dalam rumah. Selain itu, sosoro juga menjadi ruang bagi perempuan Baduy untuk bersantai dan menenun.
Ruang depan ini dibuat melebar ke samping dan memiliki lubang pada bagian lantainya. Selanjutnya, tepas atau ruang tengah digunakan sebagai tempat beristirahat dan berkumpulnya anggota keluarga. Adapun ruang belakang yang disebut ipah dimanfaatkan untuk memasak, serta menyimpan hasil panen dan persediaan beras. Ketiga bagian rumah ini sama-sama memiliki lubang pada lantainya.
Lubang-lubang tersebut berfungsi sebagai jalur sirkulasi udara, karena rumah adat Baduy tidak memiliki jendela. Ketiadaan jendela dimaksudkan untuk mendorong penghuni rumah agar lebih banyak beraktivitas di luar dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Lubang-lubang tersebut berfungsi sebagai jalur sirkulasi udara, karena rumah adat Baduy tidak memiliki jendela. Ketiadaan jendela dimaksudkan untuk mendorong penghuni rumah agar lebih banyak beraktivitas di luar dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Di dalam rumah, tidak banyak perabotan.
Tidak ada kursi mewah, tidak ada televisi, dan tidak ada benda yang dianggap berlebihan. Kesederhanaan ini justru menciptakan ruang interaksi yang hangat. Semua anggota keluarga duduk bersama di lantai bambu, berbagi cerita, makan bersama, dan menjalani keseharian tanpa distraksi.
Ruang terbuka dalam rumah mencerminkan nilai gotong royong dan kebersamaan. Di Baduy, tidak ada rumah yang dibangun sendirian.
Warga datang membantu, dari mengikat bambu hingga menyusun atap. Proses ini memperkuat ikatan sosial dan memastikan setiap rumah berdiri atas kerja kolektif masyarakat.
Suluh Nyanda adalah pengingat bahwa arsitektur bukan hanya tentang bentuk, tetapi tentang nilai.
Konstruksi yang sederhana mencerminkan cara pandang masyarakat Baduy yang memprioritaskan ketaatan terhadap adat, menjaga keseimbangan dengan alam, dan mengedepankan kerukunan sosial.
Di era modern yang sarat teknologi, Suluh Nyanda berdiri sebagai pelajaran penting bahwa keberlanjutan bisa berangkat dari konsep paling sederhana memanfaatkan alam seperlunya, menjaga tradisi, dan menghormati aturan leluhur.
Suluh Nyanda bukan sekadar bangunan tua yang dipertahankan. Ia adalah warisan hidup simbol bahwa budaya dapat bertahan bila dijaga oleh nilai dan disiplin masyarakatnya.
Rumah ini mengajarkan bahwa arsitektur dapat menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan tanpa kehilangan jati diri. Di kaki Pegunungan Kendeng, rumah-rumah Suluh Nyanda akan terus berdiri.
Bukan karena beton atau teknologi, tetapi karena kekuatan adat, aturan, dan alam yang menjadi fondasi utama kehidupan masyarakat Baduy.