Kita telah mengenal beberapa kain tradisional dari seluruh pelosok Nusantara seperti misalnya kain songket dari daerah pelembang,
kain ulos dari daerah batak, kain tapis dari lampung, kain batik yang menjadi bagian kekayaan nilai budaya di setiap daerah di nusantara, kain lurik dari daerah timur Indonesia, serta masih banyak lagi macam jenis kain tradisional nusantara.
Ada yang mencuri perhatian saya pada saat tim kami melakukan perjalanan ke daerah Barat.
Kami terpukau dengan pesona Tenun Baduy yang menjadi kain khas tradisional dari masyarakat adat kanekes, Lebak Banten, Jawa Barat.
Kami memutuskan untuk melakukan penelusuran ke tanah baduy dengan maksud ingin mengetahui lebih dekat bagaimana kehidupan dan keseharian suku baduy atau mereka lebih senang dipanggil dengan “Orang Kanekes”. Orang kanekes merupakan kelompok etnis masyarakat adat suku Banten di wilayah kabupaten lebak.
Populasi masyarakat kanekes ini dapat diperkiraan kurang lebih mencapai 26.000 orang, dan mereka merupakan suku yang mengisolasi keyakinan tabu untuk di dokumentasikan, terkhusus bagi para penduduk suku baduy dalam seperti cibeo dan cikeusik.
Secara georgrafis perkampungan baduy terletak di kaki pegunungan gunung baduy yang berada di bagian utara wilayah tersebut,
mungkin alasan geografis inilah yang kemudian muncul lah nama sebutan “baduy”, akan teteapi ada pula yang menyebutkan bahwa kata baduy muncul karena kehadiran para peneliti dari belanda yang menyamakan kelompok masayrakat baduy dengan suku Badawi dari timur Tengah yang memiliki karakter nomaden atau berpindah pindah sehingga dari perspektif mereka munculah sebutan baduy bagi daerah tersebut.
Kain tenun baduy telah menjadi identitas terlebih khusus nilai-nilai adat yang melambangkan kehadiran mereka.
Asal Usul Nama "Baduy"
Dalam Perjalanan Tim kami menuju baduy dalam, tepatnya di kampung Marengo kami disajikan dengan pemandangan suasana perkampungan yang begitu hangat, tak hanya susasana yang begitu syahdu, kami pun menyaksikan aktifitas masyarakat baduy luar yang sedang berkegiatan, rata rata dari merkea yang kami lihat adalah sebagain besar para kaum Perempuan yang sedang menenun kain di teras rumahnya.
Kegiatan menenun kain ini disetiap teras rumah berbeda beda, ada yang melakukanya seorang diri dengan alat teknologi tenun tradisional, akan tetapi tidak sedikit juga mereka (Perempuan) yang melakukanya dengan berkelompok/Kolektif.
Pesona Perempuan baduy dalam berkarya sontak membuat saya tergerak untuk mendekati dan memutuskan berbincang sesaat dengan salah seorang Perempuan baduy. Sayang saya tak sempat menanyakan namanya saat itu, saya hanya terpukau dengan warna kain tenun yang sedang ia sisir dan rajut dengan sepenuh hati.
Betapa lihai jari jemarinya dengan tatapan yang begitu sarat akan harapan dan ketulusan terhadap nilai tradisi yang sedang dirangkainya dalam sebuah kain tenun itu.
Bagi orang kanekes, kain tenun baduy telah menjadi Identitas terlebih khusus nilai nilai adat yang juga melambangkan kehadiran mereka, kain ini sangat dekat dengan nilai kehidupan khusunya nilai nilai dalam sebuah lingkungan keluarga.
Awalnya kami berfikir bahwa aktifitas menenun ini tampak sebagai kegiatan sampingan saja atau hanya sebagai pengisi waktu luang bagi para kaum Perempuan baduy.
Namun ternyata setelah ditelusuri secara mendalam dengan wawancara singkat yang kami lakukan dengan masyarakat disana, aktivitas menenun ini jauh memiliki sejumlah nilai penting dari pada hanya sekedar memenuhi perekonomian mereka.
Masayarakat disana meyakini bahwa kegiatan menenun merupakan wujud dari ketaatan yang dilakukan oleh Perempuan baduy terhadap aturan adat yang mereka junjung. Hal tersebut membuat saya kemudian ingin mencari nilai yang jauh lebih dalam dari kegiatan menenun.
Mencari sebuah alasan yang mungkin saja dapat dijadikan indikator mengapa sebuah nilai menjadi ageman atau pedoman suatu kelompok atau masyarakat, bila tidak ada manfaat atau makna yang ada didalamnya.
Mengacu pada pemikiran Filsafat Eksistensialisme (Jean Paul Sart), bahwa kain sebagai memori dan warisan sosial, manusia menciptakan maknanya melalui Tindakan sadar.
Bagi Perempuan misalnya, saat seseorang menyentuh kain, menenun, atau memilih kain, ia sedang menegaskan keberadaanya bahwa “aku ada“ melalu warna favorite yang dipilihnya, melalui tekstur kain yang dipilihnya, motif yang dipilihnya.
Jadi dalam hal ini dapat kita sederhanakan bahwa menemui kain bagi seorang Perempuan baduy adalah menemui “dirinya sendiri”, kain kemudian manjadi sebuah medium Bahasa komunikasi untuk membuktikan eksistensi dan mengartikulasikan siapa dirinya.
Pemahaman Jean paul sarte tersebut linier dengan pandangan Jack Mezirow dengan teori Pembelajaran transformatifnya memberikan pandangan bahwa pengalaman reflektif dapat mengubah kesadaran individu.
Seperti apa yang dilakukan oleh para kelompok Perempuan di suku baduy ini merupakan proses belajar reflektif, memilah serat benang yang baik dapat melatih kesabaran, ketelitian dan makna kerja.
Sehingga pekerjaan menenun bagi perempuan baduy bukan sekedar menjadi pekerjaan yang memerlukan keterampilan khusus semata, namun juga menjadi ajang meditasi sosial dan spiritual Dimana kaum peremepuan dapat menyerap nilai yang menyampaikan pemahaman hubungan antara lahiriah dan kebermaknaan hidup.
Sehingga dua pandangan diatas, kemudian dapat mendukung perspektif saya bahwa selembar kain dapat menjadi ruang pemberdayaan dan kemandirian bagi seorang Perempuan.
Dalam teori feminisme Kultural (Carol Gilligan Nel Noddings), aktifitas tradisional dalam kelompok Perempuan seperti menenun, menjahit, membatik adalah bentuk care Ethics, yakni pengungkapan ekspresi rasa cinta, keberlanjutan dan ketekunan. Menemui kain berarti mengambil peran aktif dalam ekonomi kreatif, transmisi budaya dan pemberdayaan komunitas.
Dari sisi spiritualitas teori Merleau yaitu ponty tentang fenomenologi, menjelaskan bahwa tubuh manusia adalah medium pengalaman dunia.
Ketika seorang Perempuan sedang mengenakan atau membuat kain, ia bukan hanya saja memakai atau membuat tetapi juga mengalami sebuah keindahan, kesopanan, dan kekuatan spiritual melalui tubuhnya. Sehingga menenun kain dapat menjadi kegiatan yang memacu nilai spiritual seseorang karena adanya keterhubungan antara tubuh (materi), batin (rasa) dan nilai (Etika). Dalam konteks falsafah jawa ada istilah “Ajining Raga Saka Busana “ yang menegaskan bahwa kain adalah wujud moralitas dan harga diri.
Dari perjalanan ke tanah baduy ini, semakin membuka mata hati saya bahwa selama ini seringnya kita tidak menyadari Pendidikan terjadi dalam setiap hari, tidak terbatas pada warga belajar sekolah saja.
Pendidikan sejatinya tidak terikat oleh batas ruang kelas, meja, dan kursi. Ia hidup di mana pun manusia mau belajar dari kehidupan.
Dari tangan Perempuan baduy membuktikan bahwa pendidikan sejati lahir dari kesadaran diri, kerja, dan kebersamaan, proses belajar itu berlangsung tanpa papan tulis, tanpa buku teks, namun penuh kesadaran dan nilai.
Karena itu, bahkan seseorang yang tak pernah duduk di bangku sekolah pun sejatinya adalah warga belajar, bila ia menyadari nilai di balik setiap pengalamannya.