Di pedalaman Banten, seorang anak kecil bernama Dapi berjalan tanpa alas kaki di jalan berbatu.
Di punggungnya tergendong tas besar milik wisatawan yang ia bantu bawa.
Sekilas tampak sederhana, namun langkah kecilnya mencerminkan nilai besar: tanggung jawab, kerja keras, dan kemandirian yang lahir dari budaya Suku Baduy.
Bagi masyarakat Baduy, bekerja bukan sekadar mencari nafkah, melainkan bentuk penghormatan terhadap kehidupan.
Anak-anak seperti Dapi belajar sejak dini untuk membantu orang tua, menjaga alam, dan melayani tamu dengan tulus.
Inilah wujud pendidikan humanis pembelajaran yang tumbuh dari pengalaman hidup dan hubungan sosial, bukan semata dari buku atau ruang kelas.
Dalam kehidupan Baduy, pendidikan tidak bersifat formal. Anak-anak belajar melalui keteladanan dan pengalaman langsung.
Mereka mengamati, meniru, lalu berpartisipasi dalam kehidupan komunitas.
Dalam teori pendidikan modern, ini disebut experiential learning belajar melalui pengalaman nyata.
Pengetahuan tidak selalu berasal dari sekolah, tetapi dari kehidupan yang dijalani dengan hati.
Kedewasaan Berdasarkan Kesadaran
Dapi tidak hanya belajar membawa barang; ia belajar menghormati kerja, memahami tanggung jawab, dan menumbuhkan empati.
Nilai-nilai ini membentuk karakter yang kuat dan mandiri, sekaligus memperkuat ikatan sosial di masyarakatnya.
Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan sejati bukan hanya soal kecerdasan intelektual, melainkan kecerdasan emosional dan sosial hal yang kerap terabaikan dalam sistem pendidikan modern.
Dari perspektif sosiologi pendidikan, perilaku Dapi mencerminkan proses sosialisasi primer: pembelajaran nilai dan norma dari keluarga serta lingkungan.
Ia menyerap nilai gotong royong, kesederhanaan, dan tanggung jawab melalui interaksi sehari-hari.
Sedangkan dari sisi ekopedagogi, tindakan Dapi juga menunjukkan kesadaran ekologis.
Ia bekerja selaras dengan alam, tidak merusak, dan memanfaatkan sumber daya dengan bijak.
Nilai-nilai seperti ini menjadi dasar penting bagi pendidikan berkelanjutan mengajarkan manusia untuk hidup harmoni dengan lingkungan.
Kisah Dapi mengingatkan bahwa kedewasaan tidak ditentukan oleh usia, melainkan oleh kesadaran dan tanggung jawab.
Dalam tubuh kecilnya, tersimpan pelajaran besar: bahwa kemandirian dan kepedulian bisa tumbuh di mana saja, bahkan di tengah kesederhanaan.
Di era modern yang serba cepat, Dapi menjadi simbol penting dari humanisme lokal nilai kemanusiaan yang tumbuh dari kearifan tradisional.
Ia menunjukkan bahwa pendidikan yang paling berharga bukanlah tentang hafalan, tetapi tentang bagaimana menjadi manusia yang peduli dan bermakna bagi sesama.
Dapi bukan hanya anak kecil dari Baduy; ia adalah cermin dari pendidikan sejati. Dari langkah-langkah kecilnya di jalan berbatu, kita belajar bahwa pengetahuan tidak selalu berasal dari sekolah, tetapi dari kehidupan yang dijalani dengan hati.
Dalam dirinya, tersimpan pesan sederhana namun mendalam: “Menjadi manusia berarti belajar, bekerja, dan berbagi dengan alam, sesama, dan kehidupan itu sendiri.”